Site Loader
Rock Street, San Francisco

Urgensi Penyelesaian Permasalahan Sumber Daya
Manusia Pada Koperasi

            Permasalahan khusus
yang dihadapi dalam pemberdayaan koperasi di Indonesia adalah belum meluasnya
pemahaman tentang koperasi sebagai badan usaha yang memiliki struktur
kelembagaan dan insentif yang unik/khas dibandingkan dengan badan usaha
lainnya, ketidakpahaman ini dikarenakan koperasi hanya menjadi kelembagaan
prasyarat yang tidak dikembangkan secara profesional. Koperasi membutuhnkan
sumber daya manusia yang profesional, memahami kelembagaan sosial, ekonomi dan
legalitas produk koperasi. Masyarakat sebagai anggota koperasi masih banyak
yang belum berdaya karena kurangnya memahami prinsip-prinsip dan
praktik-praktik yang benar dalam berkoperasi. Terlebih koperasi menghadapi
tantangan yang ditimbulkan oleh pesatnya perkembangan globalisasi ekonomi dan
liberalisasi perdagangan bersamaan dengan cepatnya tingkat perkembangan lembaga
keuangan dan lembaga ekonomi lainnya (Jayaputra, 2016).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Koperasi
sering digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan individu dengan
mengenyampingkan tujuan organisasi dan tujuan bersama dari anggota koperasi.
Para pemimpin mungkin dapat memanfaatkan sumber daya yang ada untuk kepentingan
pribadi atau keuntungan teman, keluarga atau faksinya sehingga memilih sumber
daya manusia yang sesuai dengan kepentingannya sendiri (Suhartono, 2011). Suhartono (2011) menjelaskan bahwa
para profesional dibidang ekonomi akan paham bagaimana risiko dan peluang, fraud dalam kelembagaan ekonomi terutama
koperasi berakibat minimnya pengembangan lembaga dan pasar. Fraud dilakukan dengan bersekongkol
dengan antara politikus, pemerintah atau elit lokal, sehingga dana yang ada
dalam koperasi sering kali dialihkan dari kepentingan organisasi kepada
kepentingan kelompok tadi. Praktek-praktek fraud
pada koperasi ini dapat menghilangkan kepercayaan terhadap organisasi dan
dapat menghancurkan moral para anggota koperasi. Penelitian Jayaputra (2016)
menjelaskan jika resistensi yang diterima koperasi sering kali berupa tindakan
yang bertentangan dengan prinsip keekonomian. Seperti penggunaan dana yang
tidak sesuai, investasi koperasi yang tidak menguntungkan hingga pembagian hak
anggota yang tidak masuk akal. Konflik kepentingan dalam koperasi dapat
diselesaikan dengan masuknya pendamping yang membuat klausul hukum internal
untuk memberikan perlindungan pada lembaga dari kebangkrutan dan tindakan yang
merugikan. Pemerintah juga dapat menjadi sumber resistensi secara legal,
indikasi yang paling jelas adalah alokasi sumberdaya yang tidak berpihak pada
koperasi.

Kelemahan
masyarakat dalam mengelola koperasi ialah ketidaksiapan mereka dalam melakukan
administrasi dan pengelolaan kelembagaan yang baik. Hal ini dikarenakan
pertanggungjawaban koperasi seringkali diberikan kepada masyarakat yang
memiliki tingkat pendidikan dan kemampuan yang rendah serta minimnya
pengalaman. Koperasi agar dapat terus berjalan maka harus berhubungan dengan
pihak luar yang secara formal untuk membangun aliansi bisnis, koperasi di
Indonesia seringkali hanya berdiri sendiri dan mengacuhkan keterlibatan pihak
lain untuk membangun pasar. Daher (2016) melakukan penelitian bahwa kerjasama
antara koperasi dengan persatuan masyarakat agrobisnis dapat meningkatkan
pendapatan dan jangkauan koperasi akan pasar yang potensial. Disisi lain
permasalahan partisipasi masyarakat dalam koperasi juga cukup rendah, para
anggota koperasi kebanyakan bersifat pasif dengan manajemen sehingga tidak
tercipta kebaharuan di dalam koperasi. Organisasi lokal berada dalam bahaya
kehancuran yang besar ketika kehilangan kebebasan dalam bertindak dan berada di
bawah kendali pihak luar yang lebih kuat (Agus, 2009)
Kondisi ini karena masyarakat sebagai anggota koperasi akan mengalami kesulitan
karena tidak memiliki kewenangan dan otonomi sendiri, sehingga sulit menentukan
kegiatan apa yang harus mereka lakukan dan kearah mana perkembangan dari koperasi
dapat dijalankan.

3.2       Penguatan Koperasi Melalui Agen Perubahan
dan Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Partisipasi

Peran
utama agen perubahan dalam Koperasi adalah sebagai perangsang masyarakat untuk
lebih berdaya, agen perubahan dapat memberikan intervensi sosial bagi
masyarakat untuk dapat mengembangkan lebih jauh prinsip-prinsip koperasi yang
modern dan sesuai dengan kondisi pasar serta perekonomian saat ini. Kotler
dalam Hendar (2010) menjelaskan bahwa agen perubahan dalam sebuah organisasi
masyarakat merupakan

The welfare and
community worker is a person who, through professional training and field
education, has the requisite values, attitudes, knowledge and skills to work
autonomously, or with a team, in a social welfare agency or program intended to
promote, relieve or restore the social functioning of individuals, families,
social groups or larger communities.

Berdasarkan
definisi diatas maka diharapkan agen perubahan koperasi merupakan seorang
maupun kelompok masyarakat yang melalui pelatihan dan pendidikan profesional baik
lapangan dan teoritis yang dapat turut serta memberikan sumbangsihnya pada
dunia perkoperasian dengan terjun langsung memberdayakan masyarakat.

Hendar
(2010) menjelaskan bahwa bagi para agen perubahan dalam koperasi harus memiliki
kemampuan memberdayakan masyarakat, dalam hal ini kata berdaya diartikan
sebagai kemampuan masyarakat yang mumpuni untuk mengelola koperasi secara
mandiri. Agen perubahan dalam koperasi diharapkan memotivasi masyarakat
didorong untuk membentuk kelompok untuk mempermudah dalam hal pengorganisasian
dan melaksanakan kegiatan pengembangan masyarakat berbentuk koperasi (Agus, 2009). Kemudian memotivasi
mereka agar dapat terlibat dalam kegiatan ekonomi koperasi seperti pinjaman
koperasi untuk usaha, pengelolaan koperasi untuk bisnis, perluasan pasar
koperasi dan produk-produk koperasi. Serta diharapkan mampu memberikan
kesejahteraan bagi masyarakat anggota koperasi melalui sisa hasil usaha.

Agen
perubahan dalam koperasi juga diharapkan mampu meningkatkan kesadaran dan
pelatihan kemampuan masyarakat dalam mengelola koperasi baik dari sisi ekonomi,
pasar maupun kelembagaan dan hukum ekonomi. Permasalahan koperasi seringkali
terdapat elit politik yang memanfaatkan koperasi sebagai dana talangan dan
penggunaan dana yang tidak seharusnya, oleh karena itu agen perubahan koperasi
harus memberikan usulan kebijakan pada masyarakat untuk dapat manajemen diri,
setiap kelompok harus mampu memilih atau memiliki pemimpin yang nantinya dapat
mengatur kegiatan mereka sendiri seperti melaksanakan pertemuan-pertemuan atau
melakukan pencatatan dan pelaporan. Disini pada tahap awal, pendamping membantu
mereka untuk mengembangkan sebuah sistem. Kemudian memberikan wewenang kepada
mereka untuk melaksanakan dan mengatur sistem tersebut (Agus, 2009).

Agen
perubahan dalam koperasi juga harus dapat memberikan pelatihan terkait dengan mobilisasi
sumber daya, diharapkan dapat dirumuskan sebuah metode yang sesuai untuk
menghimpun setiap sumber-sumber yang dimiliki oleh individu-individu yang dalam
masyarakat melalui tabungan dan sumbangan sukarela dengan tujuan untuk
menciptakan modal sosial dalam koperasi. Hal ini didasari oleh pandangan bahwa
setiap orang memiliki sumber daya yang dapat diberikan dan jika sumber-sumber
ini dihimpun, maka nantinya akan dapat meningkatkan kehidupan sosial ekonomi
masyarakat secara substansial melalui kelembagaan koperasi. Pengembangan sistem
penghimpunan, pengalokasian, dan penggunaan sumber-sumber ini perlu dilakukan
secara cermat sehingga semua anggota masyarakat memiliki kesempatan yang sama
dan hal ini dapat menjamin kepemilikan dan pengelolaan secara berkelanjutan.

Agen
perubahan juga bertanggung jawab dalam pembangunan dan pengembangan jaringan, pengorganisasian
kelompok-kelompok swadaya masyarakat yang berbasis koperasi perlu disertai
dengan peningkatan kemampuan para anggotanya membangun dan mempertahankan
jaringan pasar dan sistem sosial disekitarnya. Jaringan ini sangat penting
dalam menyediakan dan mengembangkan berbagai akses terhadap sumber dan
kesempatan bagi peningkatan keberdayaan masyarakat melalui koperasi (Agus, 2009)

Agus
(2009) menjelaskan bahwa pendampingan dalam koperasi sangat penting untuk
memastikan operasional koperasi dapat berjalan dengan baik, pendampingan
melalui agen perubahan juga membuat paradigma baru akan peran masyarakat yang
awalnya menjadi konsumen kini berevolusi menjadi bagian dari stakeholder koperasi, berikut hal yang
dapat menguatkan peran masyarakat luas terhadap koperasi di Indonesia:

1.      Enabling
atau Fasilitasi, Agen perubahan sebagai bagian dari masyarakat memilikifungsi
yang berkaitan dengan pemberian motivasi dan kesempatan bagi masyarakat untuk
terjun langsung dan bersama-sama membenahi kelembagaan serta sektor bisnis
koperasi. Beberapa tugas agen perusahab merupakan tugas yang berupa kajian
sosial seperti membangun jaringan, melakukan mediasi dan negosiasi, membangun
konsensus bersama, serta melakukan manajemen sumber. Dalam peran fasilitasi
ini, seorang agen perubahan dalam koperasi harus dapat mengusulkan ide dan
gagasan baru yang menggunakan teori, alat maupun fungsi-fungsi modern agar
koperasi menjadi semenarik lembaga ekonomi dan keuangan lainnya .

2.      Penguatan
atau empowering, peran ini merupakan
kunci adanya agen perubahan dalam partisipasi masyarakat di koperasi. Fungsi
ini tentu berkaitan dengan pendidikan dan pelatihan guna memperkuat kapasitas
masyarakat (capacity building).
Masyarakat seringkali mempercayakan koperasi pada orang yang salah, mereka
sekedar percaya kepada orang yang dianggap tetua, ketua kelompok maupun yayasan
sehingga membuat koperasi tidak dapat berkembang dan hanya sekedar formalitas
belaka. Pendamping berperan aktif sebagai agen yang memberikan masukan positif
dan direktif berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya serta bertukar gagasan
dengan pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang didampinginya, membangkitkan
kesadaran masyarakat, menyampaikan informasi, melakukan konfrontasi,
menyelenggarakan pelatihan bagi masyarakat adalah beberapa tugas yang berkaitan
fungsi penguatan.

3.      Perlindungan
atau Protecting, peran ini berkaitan dengan interaksi antara agen perubahan
yang mendampingi dengan lembaga-lembaga eksternal atas nama dan demi
kepentingan masyarakat dampingannya. Dalam kaitan dengan fungsi ini seorang
agen perubahan koperasi bertugas mencari sumber-sumber melakukan pembelaan,
menggunakan media, meningkatkan hubungan masyarakat dan membangun jaringan
kerja, sebagai konsultasi. Agen harus mengetahui aspek legal sehingga dapat
mendukung operasi koperasisecara legal dan menguntungkan. Aspek legal juga
diperlukan ketika terdapat anggota 
koperasi yang melakukan wanprestasi dengan membawa aset koperasi,
perlindungan berfungsi agar koperasi senantiasa dapat berjalan sesuai dengan hukum
yangberlaku.

4.      Mendukung
atau supporting, mengacu pada
aplikasi keterampilan yang bersifat praktis yang dapat mendukung terjadinya
perubahan positif pada masyarakat. Agen perubahan merupakan sistem support pada
koperasi yang sedang bermasalah, layaknya seorang manajemen puncak dalam sebuah
perusahaan besar, seorang agen perubahan harus dapat merumuskan dukungannya
terkait dengan operasional koperasi saat ini dan dimasa depan. Hal ini tentu
disesuaikan dengan kemampuan koperasi baik secara kelembagaan maupun secara
bisnis. Selain manajemen puncak, seorang agen harus pula dapat menyusun
manajemen perubahan yang mengorganisasi kelompok, melainkan pula mampu
melaksanakan tugas tugas teknis sesuai dengan berbagai keterampilan dasar,
seperti melakukan analisis sosial, mengelola dinamika kelompok, menjalin
relasi, bernegosiasi, berkomunikasi dan mencari serta mengatur sumber dana.

Seorang
pekerja yang bertanggung jawab layaknya manajemen puncak dan manajemen
perubahan secara profesional sesuai dengan keahliannya memberikan kemampuan dan
pelatihan serta bantuan kepada organisasi masyaraakat. Oleh karena itu
karakteristik agen perubahan atau tenaga pendampingan dalam pengembangan
koperasi harus sesuai dengan tujuan koperasi sebagai soko guru bangsa, berikut karakteristik yang harus dipenuhi oleh
agen perubahan agar tercipta perkembangan koperasi yang signifikan:

1.      Agen
perubahan merupakan bagian dari masyarakat yang berproses dan memiliki
kedewasaan dalam kelembagaan masyarakat, permasalahan koperasi seringkali
menyangkut harkat masyarakat banyak oleh karena itu seorang atau tim agen
perubahan pada penguatan koperasi harus mereka yang berasal dari masyarakat dan
dapat memahami karakteristik masyarakat.

2.      Agen
perubahan memiliki keprofesionalan dalam bidang sosial, ekonomi dan hukum. Agus
(2009) menjelaskan bahwa sumber daya manusia koperasi sangat minin  pakar ekonomi yang dapat memberikan
kesejahteraan bagi anggota dan lembaga, oleh karena itu para generasi muda yang
belajar ekonomi diharapkan dapat membuat gebrakan baru dengan turut serta
membangun koperasi. Penguatan koperasi membutuhan mereka yang memahami
permasalahan sosial, legalitas kelembagaan dan produk koperasi serta pemasaran
dan kelembagaan ekonomi. Koperasi tidak hanya lembaga bisnis namun lembaga
masyarakat yang mengedepankan prinsip kebersamaan dan pancasila.

3.3       Strategi Penguatan Koperasi Melalui Agen
Perubahan dan Pemberdayaan Masyarakat.

Lebih
lanjut strategi penguatan koperasi melalui agen perubahan sebagai bagian dari
pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat membuat koperasi menjadi badan usaha
yang menguntungkan dan mensejahterakan anggotanya. Agen perubahan dalam
koperasi harus membangun sistem kelembagaan yang modern dan anti-fraud bersifat komprehensif dengan
pendekatan yang sistematis. Sehingga permasalahan korupsi, fraud dan kemampuan sumber daya manusia yang rendah pada koperasi
dapat diselesaikan. Penguatan ini dirancang dan dilaksanakan untuk mengubah
kondisi koperasi pada saatini kepada suatu kondisi yang memungkinkannya untuk
tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang berubah menjadi global. Untuk
mencapai sasaran pengembangan koperasi pada umumnya sebagaimana yang
diinginkan, maka perlu ditempuh langkah-langkah, antara lain:

1.      Meningkatkan
prakarsa, kemampuan dan peran agen perubahan dalam gerakan koperasi melalui peningkatan
kualitas SDM dalam rangka mengembangkan dan memantapkan kelembagaan dan usaha
untuk mewujudkan peran utamanya di segala bidang kehidupan ekonomi rakyat.
Koperasi seharusnya tidak hanya pada usaha simpan pinjam atau sebagai lembaga
keuangan saja, namun harus menyeluruh dan dapat membangun potensi produk
lainnya.

2.      Agen
perubahan diharapkan dapat menciptakan iklim usaha yang makin kondusif sehingga
memungkinkan koperasi mendapat kesempatan atau akses kepada berbagai sumber
daya yang penting.

3.      Meningkatkan
akses dan pangsa pasar, operasionalisasi ini dilaksanakan antara lain dengan
cara meningkatkan keterkaitan usaha, kesempatan usaha, kepastian usaha,
perluasan akses terhadap informasi usaha, dn penyediaan saran dan prasarana
usaha untuk mewujudkan peran utamanya di segala bidang kehidupan ekonomi
rakyat.

4.      Meningkatkan
keterkaitan usaha, kesempatan usaha, kepastian usaha, perluasan akses terhadap
informasi usaha dan penyediaan sarana dan prasarana usaha yang memadai serta
penyederhanaan perizinan. Upaya ini harus didukung berbagai peraturan
perundang-undangan yang mendukung kehidupan koperasi.

5.      Agen
perubahan juga dapat secara riil memperluas akses terhadap sumber permodalan, hal
ini dilakukan antara lain dengan cara memperkukuh struktur permodalan dan meningkatkan
kemampuan pemanfaatan permodalan. Secara lebih rinci program yang dilaksanakan
meliputi peningkatan jumlah pagu kredit, menciptakan berbagai kemudahan untuk
memperoleh pembiayaan usaha, pendayagunaan sumber daya yang tersedia, seperti
dana BUMN, serta pengembangan berbagai lembaga keuangan, seperti lembaga
jaminan kredit dan asuransi.

6.      Meningkatkan
kemampuan organisasi dan manajemen Dalam hal ini dapat ditempuh antara lain
dengan cara meningkatkan kemampuan kewirausahaan dan profesionalisme pengelolaan
koperasi. Dapat pula meningkatkan akses terhadap terknologi dengan cara
meningkatkan kegiatan penelitian dan pengembangan, memanfaatkan hasil
penelitian dan pengkajian yang telah dihasilkan oleh berbagai lembaga yang
telah ada, meningkatkan kegiatan alih teknologi, dan berbagai kemudahan untuk
modernisasi peralatan berikut pemanfaatannya.

7.      Agen
perubahan dapat memastikan pengembangan kerja sama usaha, dalam hal ini
ditempuh melalui pengembangan kerja sama usaha antar pelaku ekonomi baik secara
vertical maupun horizontal. Pada upaya pengembangan kerja sama ini terdapat
muatan yang berwawasan pembinaan dan berwawasan ekonomis yang bertujuan jangka
panjang. Manfaat kerja sama yang dibangun diharapkan bukan saja bagi pelaku
yang terlibat langsung dalam kerja sama usaha tersebut, melainkan bermanfaat
secara keseluruhan dalam memperbaiki struktur ekonomi nasional menghadapi
persaingan.

 

 

Keberhasilan
berbagai koperasi baik di dalam maupun di luar negeri, diperoleh pokok-pokok
tentang keberhasilan dan kendala yang dihadapi koperasi. Sebuah koperasi dan
penyelengaraan agen perubahan yang berhasil ditandai dengan koperasi memberikan
kemudahan pinjaman terhadap permodalan; koperasi dapat meningkatkan partisipasi
anggota untuk menabung dalam upaya menghimpun dana dan koperasi  memenuhi kebutuhan sehari-hari khususnya
kepada anggota.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Dora!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out