Site Loader
Rock Street, San Francisco

 Komunikasi merupakan serangkaian perbuatan yang menggunakan bahasa sebagai alat untuk untuk mengungkapkan pikiran, keinginan, dan maksudnya. Komunikasi terbagi dalam dua saluran, yaitu lisan dan tulisan.Yang mudah dilakukan dan ditemui dalam kegiatan berkomunikasi sehari-hari ialah komunikasi secara lisan, yaitu berbicara. Berbicara dengan urutan kata yang teratur, makna yang berkesinambungan, bersifat kontekstual, serta antara penyapa dan pesapa saling memahami disebut sebagai wacana. Wacana dengan cara berbicara ini disebut sebagai wacana lisan. Wacana lisan adalah jenis wacana yang disampaikan secara lisan atau langsung dengan bahasa verbal (Mulyana, 2005:52).

Wacana yang baik, dalam hal ini wacana lisan, yaitu bersifat koheren yang salah satunya adalah kohesif (Halliday & Hasan, 1984:23). Dalam kehidupan sehari-hari pun dibutuhkan adanya kohesi dan koherensi wacana supaya tercapai keterpahaman konteks pembicaraan antara pembicara dengan lawan bicaranya.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

1.       Atiris Syarifah adalah mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan Daerah di Universitas Negeri Malang

2.       Kusubakti Andajani adalah dosen di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dan sebagai dosen pembimbing

 

Oleh karena itu, dibutuhkan piranti-piranti kohesi dan koherensi yang tepat agar pesan dan makna dari wacana lisan tersampaikan secara efektif kepada pendengar.

Ranah keterampilan berbicara dilakukan pada penelitian ini karena jarangnya penelitian tentang keterampilan berbicara daripada keterampilan menulis. Seperti pendapat Hughes (2011:15) yang menyatakan bahwa hasil pencarian di internet menunjukkan aktivitas di sekolah mungkin terjadi pertumbuhan pada aspek berbicara, namun ternyata keterampilan menulis masih mendominasi sebagai objek penelitian sehingga aspek keterampilan lisan atau berbicara dapat menjadi inovasi penelitian dan perlu dikaji lebih lanjut. Selain itu, bahasa lisan cenderung spontan, yaitu dilakukan dengan berpikir cepat dan segera mengucapkan atau menyampaikan informasi sehingga kontrol terhadap kohesi dan koherensi cenderung lebih rendah daripada bahasa tulis. Hal tersebut menjadi landasan untuk mengetahui penerapan kohesi dan koherensi dalam wacana lisan.

Penelitian sejenis yang membahas mengenai wacana siswa dilakukan oleh Firdauzia Nur Fatimah (2015) yang mengadakan penelitian dengan judul Penanda Kohesi dalam Teks Biografi Karya Siswa Kelas VIII SMP. Skripsi tersebut membahas mengenai piranti kohesi yang digunakan dalam tulisan teks biografi hasil karya siswa. Piranti-piranti ini meliputi kohesi gramatikal dan kohesi leksikal. Hasil yang diperoleh yaitu piranti kohesi gramatikal yang ditemukan dalam tulisan siswa antara lainreferensi, substitusi, dan konjungsi. Piranti kohesi leksikal yang ditemukan yakni piranti kohesi leksikal pengulangan dan kolokasi.

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis bermaksud mendeskripsikan bagaimana kohesi dan koherensi dalam wacana lisan sehingga memilih judul Kohesi dan Koherensi dalam Wacana Lisan.

 

METODE

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain penelitian deskriptif. Jenis penelitian ini adalah penelitian studi teks. Studi teks dilakukan karena penelitian ini menggunakan bahan teks lisan berupa teks lisan cerita ulang siswa. Pada teks tersebut dicari kata, frasa, atau klausa yang menunjukkan penggunaan piranti kohesi dan penggalan teks yang menunjukkan koherensi. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa penggalan teks yang mengandung piranti kohesi dan koherensi wacana. Piranti kohesi yang dimaksud ialah kohesi gramatikal dan leksikal, serta koherensi dengan piranti kohesi dan koherensi dengan faktor lain. Sumber data penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 1 Singosari kelas XI IPS A/15.

Pengumpulan data pada penelitian ini adalah tes praktik dan perekaman. Tes praktik dilakukan dengan meminta siswa menuliskan pokok-pokok cerita untuk kemudian ditampilkan bergantian secara lisan di depan kelas dan direkam. Hasil rekaman ditranskrip dan dianalisis. Instrumen pada penelitian ini yaitu peneliti sendiri. Instrumen penunjang pada penelitian ini adalah alat perekam, petunjuk tes kinerja, panduan pengumpulan data, panduan analisi data, dan pantuan transkripsi data. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bagian hasil dan pembahasan ini dikemukakan paparan data (hasil) yang terintegrasi dengan pembahasannya. Berikut penjabaran lengkap dari masing-masing pembahasan dan sub-pembahasan mengenai kohesi dan koherensi wacana lisan teks cerita ulang siswa.

Piranti Kohesi Gramatikal

Piranti kohesi gramatikal merupakan sarana penghubung dalam wacana yang direalisasikan melalui tata bahasa. Penggunaan piranti kohesi gramatikal tersebut berupa (1) piranti kohesi gramatikal referensi, (2) piranti kohesi gramatikal substitusi, (3) piranti kohesi gramatikal elipsis, dan (4) piranti kohesi gramatikal konjungsi.

Piranti Kohesi Gramatikal Referensi

Piranti kohesi gramatikal referensi berfungsi untuk merujuk, menunjuk, atau membandingkan kata yang digunakan sebagai referensi dengan referennya dan digunakan untuk memudahkan pemahaman pendengar. Piranti tersebut terdiri dari tiga jenis referensi, yaitu  referensi persona, referensi demonstrativa, dan referensi komparatif.

 

Namaku Silviana Novianti. Pada hari libur pada tanggal 26 Desember 2016. Aku dan keluargaku pergi ke Pantai Gua Cina di Malang Selatan. Waktu itu saya dan keluarga saya liburannya mendadak, jadi berangkatnya siang sekitar jam 10-an pagi. (07/04/G/RP)

Pada kutipan di atas, referensi persona yang digunakan berupa kata aku dan saya. Fungsi kata aku dan saya adalah sama, yakni sebagai pronomina persona pertama tunggal dan digunakan untuk memudahkan penyebutan nama pembicara pada kalimat selanjutnya. Selain itu terdapat referensi demonstrativa itu yang merujuk pada waktu dilakukannya kegiatan liburan.

Pronomina yang digunakan merupakan pronomina persona bentuk pertama, kedua, ketiga, dan pronomina demonstrativa. Dalam teks siswa, pronomina persona yang digunakan yaitu bentuk pertama berupa kata aku, saya, kami, kita; pronomina persona kedua kalian; dan pronomina persona ketiga beliau, dia, mereka, dan enklitik –nya. Selain itu, pronomina persona tak takrif yang ditemukan yaitu kata semua, beberapa, dan banyak. Pada teks cerita ulang siswa terdapat kata kita yang difungsikan sebagai kami, serta terdapat kata kalian yang menjadi referensi eksofora yang mengacu pada orang yang berada di luar teks, yaitu teman yang berada di kelas dan menjadi pendengar pada saat cerita disampaikan. Penjabaran piranti referensi berupa pronomina persona pertama di atas sesuai dengan pendapat Rani, Arifin, & Martutik (2013) bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat pronomina yang merujuk pada persona pertama, kedua, dan ketiga baik tunggal maupun jamak. Piranti-piranti referensi tersebut digunakan untuk mengganti orang atau insani dan non-orang atau non-insani.

Pronomina demonstrativa ditemukan dalam teks lisan cerita ulang siswa. Beberapa kata ganti yang diemukan berupa berupa itu, ini; frasa ke sana di situ, dan di sini. Piranti-piranti tersebut digunakan untuk menunjuk pada suatu hal dengan jarak tertentu. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Halliday & Hasan (1984:57) bahwa referensi demonstrativa pada pokoknya merupakan bahasa penunjukan dengan pengidentifikasian jarak referen.

Piranti referensi komparatif yang ditemukan berupa kata lebih dan lain-lain. Kedua piranti tersebut berfungsi membandingkan hal yang berbeda. Hal ini sesuai dengan pendapat Arifin (2012:31) bahwa referensi komparatif adalah deiktis yang menjadi bandingan bagi referennya.

 

Piranti Kohesi Gramatikal Substitusi

Piranti kohesi substitusi ditemukan sedikit penggunaannya dalam teks lisan cerita ulang siswa. Dalam penelitian ini ditemukan penggunaan substitusi substitusi nominal dan substitusi klausal; serta tidak ditemukan substitusi verbal dan substitusi dengan metafora.

Substitusi nominal yang ditemukan contohnya berupa penggantian frasa saya sama temen-temen saya dengan kata semuanya dan kata kebun yang mengganti pegunungan dan tumbuh-tumbuhan, kedua piranti tersebut berfungsi mengganti nomina, baik leksikal maupun frasal, yang telah disebutkan sebelumnya. Substitusi klausal yang ditemukan, salah satunya frasa hal itu mengganti klausa kami melihat skill bermain dari tim-tim lain yang sangat bagus berfungsi mengganti klausa yang disebutkan sebelumnya tanpa mengulang klausa tersebut. Substitusi nominal dan substitusi klausal yang ditemukan tersebut sesuai dengan pendapat Arifin (2012:33) bahwa substitusi adalah penggantian suatu unsur wacana dengan unsur lain yang acuannya tetap sama.

Piranti Kohesi Gramatikal Elipsis

Elipsis adalah penghilangan proposisi yang dianggap atau diperkirakan sudah diketahui oleh pendengar. Elipsis umumnya digunakan untuk kepraktisan dan kemudahan dalam penyampaian kalimat dari pembicara. Unsur kalimat yang biasa dihilangkan adalah subjek dan predikat. Elipsis yang ditemukan dalam penelitian ini adalah elipsis nominal, elipsis verbal, dan elipsis tataran lain.         

Sekian Ø dan terima kasih Ø. (02/32/G/EN)

Pada kutipan di atas, terdapat elipsis nomina frasal, yakni cerita dari saya dan atas perhatian teman-teman. Pendengar sudah mengetahui maksud pembicara mengakhiri cerita dan berterima kasih sehingga elipsis tersebut berfungsi menghilangkan proposisi yang dianggap sudah diketahui oleh pendengar. Elipsis yang ditemukan ini digunakan untuk menutup cerita yang disampaikan. Elipsis nominal yang diterapkan sesuai dengan pendapat Halliday & Hasan (1984:147) bahwa elipsis nominal merupakan pelesapan nomina atau frasa nomina.

Penggunaan piranti elipsis cukup banyak ditemukan dalam teks lisan cerita ulang siswa menunjukkan bahwa elipsis sering diterapkan dalam teks siswa. Hal tersebut dikarenakan pernyataan dalam wacana lisan dapat dimengerti dengan tambahan fitur nada dan jeda yang melekat padanya, sehingga kalimat yang diproduksi relatif singkat. Elipsis ynag diterapkan memiliki fungsi sebagaimana pendapat White (2013:259) bahwa elipsis berfungsi memberikan informasi lanjutan (intersubjectivity), mendukung pernyataan sebelumnya (continuers), perbaikan (correction), konfirmasi dengan pengulangan (repetition), dan komentar (comment).

Piranti Kohesi Gramatikal Konjungsi

Piranti kohesi konjungsi merangkaikan proposisi-proposisi untuk menghubungkannya menjadi wacana yang padu. Konjungsi yang paling banyak digunakan adalah konjungsi urutan waktu, yaitu konjungsi yang menghubungkan peristiwa dengan penunjukan waktu.

Nama saya Ismania nomor absen 14. Saya akan menceritakan pengalaman saya waktu pergi bersama keluarga saya. Waktu setelah pelaksanaan ujian akhir semester 1 berakhir, selepas pulang sekolah, saya dan kedua orang tua saya dan beberapa anggota keluarga saya berangkat ke Jawa Barat dengan menaiki kereta api. (18/03/G/KUW)

Pada kutipan di atas terdapat kata setelah dan selepas yang berfungsi menunjukkan kegiatan yang dilakukan setelah proposisi yang disebutkan sebelumnya. Konjungsi tersebut digunakan sebagai perangkai proposisi-proposisi yang berurutan. Selain konjungsi urutan waktu, pada struktur orientasi teks cerita ulang siswa terdapat juga konjungsi aditif dan, konjungsi jelasan yang berupa kata yaitu, konjungsi simpulan jadi, serta konjungsi dubitatif mungkin. Selain piranti kohesi referensi dan konjungsi, terdapat pula piranti kohesi lainnya pada struktur orientasi. Piranti-piranti tersebut yaitu piranti kohesi substitusi, elipsis, dan reiterasi.

Wujud konjungsi yang ditemukan dalam penelitian ini di antaranya berupa dan, sebelumnya, terus, setelah, meskipun, padahal, ternyata, ditambah, akan (tetapi), seperti, biar, supaya, karena, akibat, maka, soalnya,jadi, mungkin, apalagi, dan yaitu. Penggunaan piranti-piranti tersebut menunjukkan bahwa piranti konjungsi sangat dibutuhkan pada wacana lisan teks cerita ulang untuk merangkaikan informasi-informasi yang disampaikan. Hal ini sesuai dengan pendapat Kridalaksana (2011), Mulyana (2005), serta Rani, Arifin, & Martutik (2013) bahwa konjungsi adalah satuan kebahasaan yang digunakan untuk merangkaikan beberapa proposisi.

Piranti Kohesi Leksikal

Piranti kohesi leksikal berbeda dengan kohesi gramatikal, yaitu menggunakan kata-kata leksikal untuk memadukan informasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada wacana lisan teks cerita ulang, ditemukan piranti kohesi leksikal yang digunakan siswa. Piranti kohesi leksikal tersebut berupa (1) piranti kohesi leksikal reiterasi dan (2) piranti kohesi leksikal kolokasi. Penjabaran masing-masing piranti diuraikan sebagai berikut.

Piranti Kohesi Leksikal Reiterasi

Piranti kohesi reiterasi merupakan piranti kohesi yang digunakan dalam menyampaikan cerita, siswa sering menunjukkan penggunaan pengulangan-pengulangan. Pengulangan tersebut digunakan untuk mempertahankan ide yang ingin disampaikan agar tetap utuh kepada pendengar.

Piranti kohesi leksikal reiterasi yang ditemukan cukup banyak. Reiterasi yang ditemukan yaitu ulangan penuh misalnya proposisi Desa Langlang, ulangan dengan bentuk lain misalnya proposisi rumah yang baru dibangun dengan rumah itu, dan ulangan dengan penggantian misalnya proposisi dipacok-pacokin dengan dipasang-pasangin.

Terdapat pula hiponimi misalnya proposisi wahana permainan sebagai superordinat dan roller coaster, bombom car, kereta naga, perahu oleng sebagai subordinatnya. Reiterasi-reiterasi tersebut digunakan untuk mengulang proposisi atau ide untuk memperjelas ide, mempermudah penyebutan, dan memberikan informasi lanjutan. Hal ini sesuai dengan pendapat Rani, Arifin, & Martutik (2013:159) yaitu pengulangan berarti mempertahankan ide tau topik yang sedang dibicarakan. Reiterasi digunakan karena kemudahannya. Kohesi leksikal reiterasi yang ditemukan menunjukkan bahwa reiterasi diterapkan dalam menyampaikan dan merangkaikan informasi dalam wacan lisan teks cerita ulang siswa.

Piranti Kohesi Leksikal Kolokasi

Piranti kohesi leksikal kolokasi terletak pada piranti-piranti yang mempunyai hubungan asosiasi dan kesamaan distribusi. Kolokasi hanya ditemukan dalam struktur urutan peristiwa dengan penggunaan yang sedikit. Kohesi leksikal yang ditemukan dalam penelitian ini, yaitu bermain dengan adik-adik, jalan menanjak dan berliku-liku dengan hutan, terik matahari dan terpaan angin dengan laut, ombak dengan pantai, senam dengan badan sehat, (Kota) Batu dengan kesejukan, dan Bali dengan patung-patung. Proposisi-proposisi tersebut berasosiasi dan sering dikaitkan bersamaan sehingga membentuk simpulan kolokasi.

Piranti Koherensi

Koherensi merupakan kepaduan secara maknawi dari sebuah wacana. Koherensi sebuah wacana dapat terjadi karena beberapa faktor, yakni (1) koherensi dengan piranti kohesi dan (2) koherensi dengan faktor lain. Koherensi dengan piranti kohesi dapat ditinjau dari penggunaan referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, reiterasi, dan kolokasi. Sedangkan koherensi dengan faktor lain dapat dianalisis dari beberapa faktor. Faktor yang dimaksud antara lain keruntutan, proposisi positif, praanggapan logis, lokasi geografis dan kesadaran budaya, latar belakang pemakai bahasa atas bidang permasalahan, dan variasi ujaran situasional.

Koherensi dengan Piranti Kohesi

Aspek koheresi dengan piranti kohesi yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi semua aspek. Koherensi tersebut ditinjau dari penggunaan kohesi gramatikal yaitu referensi, substitusi, elipsis, konjungsi; dan kohesi leksikal reiterasi dan kolokasi. Koherensi dengan piranti kohesi dalam teks lisan cerita ulang siswa dapat dilihat kembali pada subbab Piranti Kohesi Gramatikal dan Leksikal di atas. Koherensi dengan piranti kohesi yang ditemukan tersebut sesuai dengan pendapat Arifin (2012:19) serta Halliday & Hasan (1984:6) bahwa referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, reiterasi, dan kolokasi merupakan alat kohesi yang dapat membentuk koherensi.

Koherensi dengan Faktor Lain

Aspek koherensi dengan faktor lain yang ditemukan dalam penelitian ini meliputi keruntutan dengan parataksis subordinatif, proposisi positif, praanggapan logis, lokasi geografis dan kesadaran budaya, latar belakang pemakai bahasa atas bidang permasalahan, dan variasi ujaran situasional. Koherensi dengan faktor lain yang mendomonasi dalam teks lisan cerita ulang siswa adalah koherensi dengan keruntutan parataksis subordinatif.

Setelah tiba di Jatim Park 1, kami terburu-buru untuk briefing. Setelah itu, kami masuk ke area Jatim Park 1. Pertama kali saya disuguhi oleh pemandangan gong yang besar. Kemudian kami semua menyusuri seluruh ciri khas kebudayaan daerah Indonesia. Saya juga menyusuri museum-museum, seperti museum ikan, museum serangga dan tentunya masih banyak lagi. Dan akhirnya yang saya tunggu-tunggu yaitu wahana permainannya. (11/12/K/Run)

Pada penggalan teks di atas, terdapat paragraf dengan koherensi aspek keruntutan, yakni hubungan parataksis dengan pernyataan subordinatif. Hal itu ditunjukkan dengan proposisi Jatim Park 1 yang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa Jatim Park 1 merupakan tempat yang dapat dijadikan sebagai sarana edukasi dan permainan. Oleh karena itu, proposisi gong besar, kebudayaan daerah Indonesia, museum-museum, dan wahana permainan menjadi subordinat dan mendukung porposisi Jatim Park 1.

Penerapan koherensi dengan faktor  parataksis subordinatif pada data-data yang ditemukan sesuai dengan pendapat Rani, Arifin, & Martutik (2013:111) bahwa penataan subordinatif berarti menata ide yang lebih luas cakupan maknanya di awal dan diikuti oleh ide yang lebih sempit. Dengan demikian, penataan ide pokok di awal menerapkan konsep parataksis subordinatif yang ditunjukkan dengan adanya kalimat-kalimat penjelas yang mengikuti ide utama.

Selain itu, terdapat pula penggunaan koherensi dengan faktor lainnya yang ditemukan pada penelitian ini. Dari analisis yang dilakukan, dapat diketahui faktor lain yang memungkinkan terciptanya koherensi sesuai dengan pendapat Rani, Arifin, & Martutik (2013:164—169), yaitu faktor keruntutan secara logika, proposisi positif, praanggapan logis, lokasi geografis dan kesadaran budaya, latar belakang pemakai bahasa atas bidang permasalahan, dan variasi ujaran situasional. Koherensi dengan faktor keruntutan secara logika, yaitu diketahui dari adanya hubungan subordinatif dari kalimat-kalimat. Faktor proposisi positif diketahui dari informasi yang disebutkan sebelumnya mendukung informasi pada kalimat setelahnya. Faktor praanggapan logis diketahui dari praanggapan yang memungkinkan pendengar mengetahui hal-hal di balik pernyataan yang disebutkan. Faktor lokasi geografis dan kesadaran budaya, yaitu informasi yang menunjukkan karakteristik suatu budaya pada daerah tertentu sehingga dipahami oleh pendengar yang mengetahui kebudayaan dari lokasi tersebut. Faktor latar belakang pemakai bahasa atas bidang permasalahan dianalisis dari latar belakang pembicara dan lawan bicara sehingga mempengaruhi penggunaan bahasa. Faktor variasi ujaran situasional, dilihat dari adanya variasi ujar yang tidak biasa muncul dalam bahasa tulis tetapi muncul dalam bahasa lisan yang dipengaruhi oleh situasi, di antaranya hubungan dan peran partisipan, serta pemakaian bahasa dalam budaya tertentu.

 

PENUTUP

Simpulan

Berdasarkan hasil analisis data penggunaan piranti kohesi, secara umum siswa menggunakan semua piranti kohesi dalam teks lisan cerita ulangnya, yakni (1) piranti kohesi gramatikal referensi yang meliputi referensi persona, referensi demonstrativa, dan referensi komparatif, (2) piranti kohesi gramatikal subtititusi meliputi subtitusi nominal dan subtitusi klausal, (3) piranti kohesi gramatikal elipsis meliputi elipsis nomia, elipsis verba, dan elipsis tataran lain, (4) piranti kohesi gramatikal konjungsi meliputi konjungsi urutan waktu, konjungsi pilihan, konjungsi alahan, konjungsi ketidakserasian, konjungsi tambahan, konjungsi pertentangan, konjungsi perbandingan, konjungsi sebab-akibat, konjungsi harapan atau optatif, konjungsi ringkasan atau simpulan, konjungsi misalan, konjungsi dubitatif, konjungsi konsesi, konjungsi tegasan, dan konjungsi jelasan. Adapun penggunaan piranti gramatikal yang lebih banyak ditemukan dari keempat piranti tersebut adalah piranti gramatikal konjungsi. Sedangkan piranti kohesi leksikal yang ditemukan dari hasil analisis meliputi (1) reiterasi yang meliputi ulangan penuh, ulangan dengan bentuk lain, ulangan dengan penggantian, dan hiponimi; dan (2) piranti kohesi leksikal kolokasi. Adapun penggunaan piranti leksikal yang lebih banyak ditemukan adalah piranti leksikal reiterasi.

Koherensi dengan piranti kohesi dan koherensi dengan faktor lain dalam wacana lisan teks cerita ulang siswa. Berdasarkan hasil dari analisis data koherensi yang ditemukan dalam teks cerita ulang, yaitu (1) koherensi dengan piranti kohesi meliputi referensi, substitusi, elipsis, konjungsi, reiterasi, dan kolokasi, (2) koherensi dengan faktor lain meliputi keruntutan, proposisi positif, praanggapan logis, lokasi geografis dan kesadaran budaya, latar belakang pemakai bahasa atas bidang permasalahan, dan variasi ujaran situasional. Adapun koherensi dengan piranti kohesi yang ditemukan seperti tersebut di atas, sedangkan koherensi dengan faktor lain yang ditemukan sebanyak 17 data, yakni yang paling banyak ditemukan adalah keruntutan dengan parataksis subordinatif.

 

Saran

Bagi guru, disarankan temuan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk mengembangkan ragam variasi piranti kohesi yang digunakan siswa, utamanya konjungsi; dan koherensi dengan faktor lain agar teks yang dibuat tidak monoton. Selain itu, temuan ini dapat dijadikan sebagai pembelajaran pada siswa, yaitu mengenai karakteristik penggunaan piranti kohesi pada masing-masing struktur teks cerita ulang karena setiap struktur teks menggunakan piranti kohesi yang berbeda. Dengan demikian, kompetensi yang diajarkan dapat lebih spesifik dan terarah.

Bagi peneliti lain disarankan penelitian ini menjadi rujukan untuk penelitian selanjutnya. Selain itu, peneliti lain disarankan untuk mengetahui lebih lanjut mengenai penggunaan piranti kohesi pada teks lain yang ditinjau dari masing-masing struktur teksnya. Hal tersebut dilakukan sebagai tindak lanjut dari penelitian ini.

 

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, B. 2012. Alat Kohesi Wacana Bahasa Indonesia. Malang: PT Gunung Samudera.

Halliday, M.A.K. & Hasan, R. 1984. Cohesion in English. New York: Longman Inc.

Hughes, R. 2011. Teaching and Researching Speaking. Edinburg Gate: Pearson Education Limited.

Kridalaksana, H. 2011. Kamus Linguistik Edisi Keempat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Mulyana. 2005. Kajian Wacana. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Rani, A., Arifin, B., & Martutik. 2013. Analisis Wacana: Tinjauan Deskriptif. Malang: Surya Pena Gemilang.

White, J. R. 2013. Ellipsis as a Marker of Interaction in Spoken Discourse. Research in Language, (Online), 11 (3): 251—276, (https://www.degruyter.com/view/j/rela.2013.11.issue-3/…/v10015-012-0020-x.xml), diakses 16 Februari 2017.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Dora!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out