Site Loader
Rock Street, San Francisco

            Definisi dan Etiologi Tuberkulosis

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi menular
pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini disebut juga dengan bakteri
tahan asam karena dapat bertahan terhadap pencucian warna dengan asam dan
alkohol (Widoyono, 2011). Selain memiliki sifat tahan asam, bakteri ini juga
memiliki sifat aerob yang membutuhkan
oksigen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya seperti untuk pertumbuhan, respirasi,
dan bereproduksi (Harti, 2014). Paru merupakan organ dengan kandungan oksigen
yang tinggi, hal ini menyebabkan paru menjadi tempat predileksi utama
terjadinya manifestasi TB dibandingkan dengan organ atau jaringan lain (Wardhani
dan Anna, 2014).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

 

2.1.2
   Cara Penularan Tuberkulosis

Cara penularan TB
adalah melalui droplet (percikan
dahak) penderita TB dengan BTA positif yang kemudian terhirup oleh individu sehat
lainnya. Masa inkubasi dari bakteri Mycobacterium
tuberculosis adalah selama 3-6
bulan (Widoyono, 2011). Setelah kuman TB paru masuk kedalam tubuh melalui
pernafasan, kuman tersebut dapat menyebar dari paru ke bagian tubuh lainnya
melalui sistem peredaran darah, sistem limfe, saluran pernafasan, atau
penyebaran langsung ke bagian tubuh lainnya (Kemenkes, 2011).

 

2.1.3    Gejala
Klinis Tuberkulosis

             Tuberkulosis
adalah penyakit infeksi yang umumnya menimbulkan tanda-tanda dan gejala yang
sangat bervariasi pada masing-masing penderita. Menurut Perhimpunan Dokter Paru
Indonesia (PDPI) tahun 2016, gejala klinis TB paru dapat dibagi menjadi 2 yaitu
gejala respiratorik dan gejala sistemik.

Gejala respiratorik akibat TB paru adalah batuk
produktif yang berkepanjangan lebih dari dua 
minggu, nyeri dada, sesak napas, dan batuk darah. Sifat batuk biasanya
dimulai dari batuk kering, kemudian setelah timbul peradangan, batuk menjadi produktif
dan terdapat sputum. Batuk darah sendiri diakibatkan oleh pecahnya pembuluh
darah sehingga pada saat mengeluarkan sputum akan bercampur darah (PDPI, 2016).
Selain itu, gejala respiratorik lain adalah terdapatnya suara nafas abnormal
yaitu wheezing. Wheezing dapat terjadi karena penyempitan lumen endobronkus yang
disebabkan oleh sekret, bronkostenosis, inflamasi, terdapatnya jaringan
granulasi, dan lain-lain .Gejala respiratorik ini sangat bervariasi mulai dari
gejala ringan hingga cukup berat bergantung dari luas lesi (Alsagaff dan Abdul,
2009).

Sedangkan gejala sistemik pada penyakit ini dapat
berupa demam, menggigil, keringat malam, anoreksia, malaise, dan berat badan menurun (Alsagaff dan Abdul, 2009). Demam
merupakan gejala paling sering ditemukan. Seringkali suhu badan meningkat pada
siang maupun sore hari dan biasanya subfebris menyerupai demam influenza tetapi
terkadang dapat mencapai 40-41o C (Amin dan Asril, 2014). Menggigil
dapat terjadi bila suhu badan naik dengan cepat, tetapi tidak diikuti dengan pengeluaran
panas dengan kecepatan yang sama. Sedangkan gejala sistemik berupa anoreksia,
malaise, dan penurunan berat badan merupakan manifestasi klinis yang saling
berkaitan satu sama lain.  Manifestasi
klinis yang terjadi sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh setiap individu
dan berat ringannya infeksi bakteri Mycobacterium
tuberculosis yang menyerang individu tersebut (Alsagaff dan Abdul, 2009).

 

2.1.4    Diagnosis Tuberkulosis

             Seseorang yang dicurigai menderita TB
dianjurkan untuk menjalani serangkaian pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosis
yang pasti. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis, pemeriksaan
mikrobiologi, dan hasil radiologi. Pada saat anamnesis dapat ditanyakan
mengenai lamanya batuk serta frekuensi batuk, sesak napas, nyeri dada, keringat
malam, demam, anoreksia, serta penurunan berat badan. Pemeriksaan fisik dapat
ditemukan suara napas bronkial, suara napas melemah, wheezing dan adanya otot-otot pernafasan tambahan (Wardhani dan
Anna 2014).

            Pemeriksaan
radiologi pasien TB paru dewasa akan terlihat gambaran lesi pada segmen apikal
dan posterior lobus atas atau segmen superior lobus bawah. Hal ini dikarenakan
oleh karena bagian apikal paru merupakan bagian paru dengan kandungan oksigen
yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian paru yang lain, sehingga pada bagian
ini merupakan tempat predileksi utama penyakit TB dibandingkan bagian lain (PDPI,
2016).

                        Pemeriksaan
bakteriologi yang paling sering digunakan untuk diagnosis TB adalah pemeriksaan
sputum dengan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen.
Sediaan yang positif memberikan petunjuk awal untuk menegakkan diagnosis,
tetapi untuk sediaan yang negatif tidak menyingkirkan kemungkinan adanya
infeksi penyakit. (Price dan Wilson, 2014). 

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Dora!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out