Site Loader

AbstrakPrivatisasi merupakan salahsatu cara untuk meningkatkan kinerja State Owned Enterprises (Badan UsahaMilik Negara). Namun privatisasi ini tidaksemuanya menunjukkan hasil yang sesuai dengan tujuan privatisasi. Artikel inimembahas tentang dampak privatisasi, baik di dalam negeri maupun di Indonesia.Metode yang digunakan adalah metode kualitatif yaitu study literature. Hasilpenelusuran artikel menunjukkan bahwa pada umumnya privatisasi telah mampumeningkatkan kinerja BUMN. Namun ada beberapa privatisasi di Indonesia yangbelum mampu meningkatkan kinerja BUMN yang telah diprivatisasi.

Keyword; privatisasi, kinerja,state owned enterprise1              PendahuluanSetiap negara memiliki perusahaan sendiri, State Owned Enterprises (Badan Usaha Milik Negara). Tujuanpendirian perusahaan adalah untuk memenuhi kebutuhan sendiri, baik yangbersifat komersial maupun sosial. BUMN ikut berpartisipasi sebagai pelakukegiatan ekonomi, baik nasional maupun internasional dan memegang peranan pentingdalam perekonomian nasional. Peran BUMN termasuk kontributor pertumbuhanekonomi nasional, penyediaan barang atau jasa yang tidak tercakup olehperusahaan swasta, penyedia pekerjaan, memberikan panduan dukungan untuk usahakecil dan menengah, dan sumber pendapatan pemerintah.Peran BUMN dalammendukung upaya pemberdayaan masyarakat setempat, seyogianya tidak meluludilakukan secara karitatif, tetapi dalam banyak hal justru harus dilakukandengan cara mengembangkan mekanisme redis – tribusi asset yang berpihak kepadaprogram pengembangan SDM dan pemberdayaan usaha masyarakat lokal. Satu hal yangmesti disadari, bahwa BUMN bukanlah sebuah badan usaha yang murni hanyamempertimbangkan untung-rugi. peran BUMN sebagai salah satu sumber potensialkeuangan daerah (Srimulyo; 2001)Privatisasibukanlah akhir dari BUMN, dan obat mujarab menuju efisiensi finansial danekonomi yang luas. Walaupun banyak negara yang melakukan privatisasi untukmeningkatkan kinerja perusahaan, namun itu hanyalah salah satu cara daribeberapa metode untuk restrukturisasi (Vuylsteke;1988).

Best services for writing your paper according to Trustpilot

Premium Partner
From $18.00 per page
4,8 / 5
4,80
Writers Experience
4,80
Delivery
4,90
Support
4,70
Price
Recommended Service
From $13.90 per page
4,6 / 5
4,70
Writers Experience
4,70
Delivery
4,60
Support
4,60
Price
From $20.00 per page
4,5 / 5
4,80
Writers Experience
4,50
Delivery
4,40
Support
4,10
Price
* All Partners were chosen among 50+ writing services by our Customer Satisfaction Team

Privatisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan upaya pemerintah dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan tersebut melalui kepemilikan dan pengalihan kendali ke pihak lain (sektor swasta). Namun, privatisasi ini sebenarnya belum mampu meningkatkan profitabilitas dan menjaga tata kelola perusahaan yang baik. Upaya untuk menciptakan efektivitas dan efisiensi perusahaan tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan kepemilikan publik, menerapkan prinsip tata kelola perusahaan, dan memberdayakan peran komite audit dan direktur / komisaris independen.

Artikel in membahas bagaimanakah Dampak Privatisasi BUMN di Indonesia dandi luar negeri berdasarkan studi riset terdahulu.2              Dampak privatisasi di duniaPenelitianBirdsallKajian perubahan pola kepemilikan dan profitabilitas dibandara Inggris dan Polandia, dengan membandingkan keefektifan keuanganbandara-bandara Inggris utama sebelum dan sesudah privatisasi tahun 1986 dan2005 di Inggris dan periode 2000-2007 di Polandia (Birdsll;2000). Efisiensidiukur dari segi pendapatan yang dihasilkan oleh masing-masing penumpangmenggunakan EBITDA (Laba sebelum Bunga, Pajak, Depresiasi, dan Amortisasi).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bandara Inggris yangdiprivatisasi meningkatkan keuntungan mereka selama periode 1986 sampai 2005.Namun, sulit untuk menilai seberapa jauh hal ini karena lalu lintas tumbuh danseberapa jauh hal ini disebabkan oleh perubahan gaya kepemilikan dan manajemen.Sedangkan di Polandia dapat mengakibatkan pertumbuhan kinerja keuangan yangsangat tinggi di tahun-tahun berikutnya. D’Souza; 2005Studi ini menambahkan bukti empiris bahwa privatisasimeningkatkan kinerja perusahaan yang didivestasi dan menawarkan bukti awalmengapa peningkatan kinerja ini terjadi.

Dengan menggunakan contoh dari 129 isuprivatisasi saham dari 23 negara (OECD) yang dikembangkan, pertama-tama kitaakan mendokumentasikan peningkatan profitabilitas, efisiensi, output, danbelanja modal yang signifikan menyusul privatisasi. Data kami menunjukkan bahwakepemilikan (baik swasta maupun asing), tingkat kebebasan ekonomi, dan tingkatperkembangan pasar modal secara signifikan mempengaruhi kinerjapasca-privatisasi. Perbandingan terhadap temuan Boubakri,Cosset, dan Guedmani (2004) menunjukkan bahwa beberapa faktor penentupeningkatan kinerja pasca-privatisasi berbeda antara negara maju dan negaraberkembang.Banyak studi empiris baru-baru ini (dirangkum dalam Djankov dan Murrell (2002) dan Megginsondan Netter (2001)) mendokumentasikan perbaikan kinerja keuangan dan operasiperusahaan yang baru diprivatisasi. Setelah privatisasi,perusahaan menjadi lebih menguntungkan dan efisien. Secara khusus, kamimenggunakan sampel dari 130 perusahaan (di 23 negara maju) untuk memeriksadampak privatisasi.

Setelah privatisasi, perusahaan secara signifikanmeningkatkan profitabilitas, output per karyawan, dan penjualan riil.Perusahaan yang baru diprivatisasi juga mencapai peningkatan kinerja ini tanpamengurangi jumlah lapangan kerja rata-rata. Studi ini berusaha untuk memberikanbeberapa wawasan mengenai sumber perbaikan kinerja ini. Sampel multi-nasionaldan multi-industri kami menawarkan kesempatan unik untuk mengidentifikasifaktor penentu peningkatan efisiensi setelah melakukan privatisasi di negaramaju. Data menunjukkan bahwa kepemilikan berpengaruh signifikan terhadapkinerja pasca privatisasi. Kami menemukan hubungan negatif yang signifikanantara kepemilikan (pemerintah dan asing) dan lapangan kerja. Kami jugamengidentifikasi hubungan positif yang signifikan antara kepemilikan pemerintahdan belanja modal dan hubungan negatif yang signifikan antara kepemilikan asingdan belanja modal.

Akhirnya, kita membandingkan temuan kami dengan temuanBoubakri dkk. (2004) mempelajari peningkatan kinerja pasca-privatisasi dinegara-negara berkembang. Tampaknya beberapa faktor yang mempengaruhi kinerjapasca-privatisasi berbeda antara negara maju dan negara berkembang. Yang palingjelas adalah bahwa faktor kelembagaan (seperti tingkat perdagangan atauliberalisasi keuangan) lebih sering signifikan di negara-negara berkembang.Tran;2015Tran menemukan bahwapergeseran dari kepemilikan negara atau kolektif ke kepemilikan pribadi dapatsecara konsisten meningkatkan kinerja pengalih dalam hal keuntungan. Hal ini menunjukkan bahwa privatisasi adalah cara yang efisien untukmemperbaiki kinerja keuangan badan usaha milik negara Vietnam. Penelitian inimenggunakan DID dengan kontrol untuk usia perusahaan, ukuran perusahaan danindustri, yaitu pendekatan multivariat dimana estimator DID disematkan dalamistilah interaksi antara dummy dan waktu swastanisasi untuk mengatasikekurangan perbandingan prior-posterior sederhana dan perbedaan standar dalammetode perbedaan dalam mengendalikan efek konkuren faktor ekonomi lainnya padaperusahaan yang diprivatisasi. Prosesprivatisasi di Vietnam masih mengarah pada hasil positif dalam halprofitabilitas untuk perusahaan yang diprivatisasi pada periode selanjutnya.

 Studi ini masih menemukan beberapa keterbatasan. Perubahan kinerja setelahprivatisasi dapat dipengaruhi oleh mekanisme corporate governance sepertikomposisi dewan, dualitas CEO, struktur kepemilikan, kehadiran pemilikinstitusi dan pemilik asing dan faktor lingkungan ekonomi seperti liberalisasiperdagangan dan pasar saham. Selanjutnya, distribusi kepemilikan (siapa pemilikbaru?) Setelah privatisasi dapat memiliki efek potensial terhadap kinerjaperusahaan. Karena masalah ketersediaan data, kami tidak dapat mengendalikankemungkinan pengaruh faktor-faktor ini terhadap kinerja perusahaan. Namun,faktor-faktor ini bisa jadi penting dan meminta penelitian lebih lanjut3              Dampak Privatisasi BUMNdi Indonesia(Aprilina; 2017)Aprilina mengujiperbedaan kinerja keuangan sebelum dan sesudah privatisasi BUMN. Populasi dalampenelitiannya adalah semua perusahaan milik negara di Indonesia, sedangkansampel dalam penelitian ini untuk pengujian fase I tahun 1993-2010, pengujiantahap II pada tahun 2007-2011, yaitu melakukan IPO dan pencatatan pada BursaEfek Indonesia dipilih dengan metode purposive sampling.

Penelitian inimenggunakan uji-t. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan kinerjakeuangan perusahaan sebelum dan sesudah privatisasi BUMN. Hasiluji beda mean menunjukkan tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan padaperusahaan BUMN tiga tahun sebelum dan tiga tahun sesudah privatisasi. Jadidengan diterapkannya privatisasi maka tidak mampu meningkatkan keuntunganperusahaan dari modal yang dimiliki dan tidak mampu meningkatkan keuntungandari aset yang dimilikinya.Penelitian ini mempunyai keterbatasan baik dalam pengambilansampel maupun dalam pengukuran variabel.

Beberapa keterbatasan dalam penelitianini antara lain : 1. Jumlah sampel yang diperoleh pada penelitian ini terbataspada 14 perusahaan BUMN yang melakukan privatisasi dan listing di BEI. Hal inidisebabkan karena terbatasnya jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria untukdijadikan sampel penelitian. 2. Populasi dalam penelitian ini hanya terbataspada satu jenis perusahaan yaitu perusahaan BUMN. Hal ini mengakibatkanpenelitian ini tidak bisa digeneralisasi untuk semua jenis perusahaan.Kurniawati ; 2008Kajian post-privatisasi baik kinerjakeuangan dan pasar BUMN menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan kinerjakeuangan yang signifikan setelah privatisasi.

Dari hasil penelitian Kurniawati, diketahui bahwa kinerja keuangan BUMN yangdiukur dengan rasio likuiditas (current ratio, cash ratio, acid test ratio),profitabilitas (GPM, ROE, ROA, NPM) dan leverage (DR, DER, long term ratio)sesudah privatisasi tidak lebih baik dibanding sebelum privatisasi, hasil ituditunjukkan dari nilai probabilitas yang lebih besar dari signifikansi 5%,kecuali untuk rasio GPM dan rasio DER yang menunjukkan nilai probabilitasnyalebih kecil dari nilai signifikansinya, yang berarti kinerja keuangan yangdiukur dengan GPM dan DER lebih baik setelah dilakukannya privatisasi. Sedangkankinerja saham BUMN dapat memberikan pendapatan di atas rata-rata pasar(Abnormal Return positif) jika saham diinvestasikan paling tidak selama 7 bulanmulai saat masuk di pasar sekunder. Demikian juga jika dilihat dari CumulativeAR, dapat memberikan rata-rata harapan pendapatan kepada investornya. T PranotoPenelitian terbatas pada BUMN di Indonesiayang sudah diprivatisasi dan listed di pasar modal menunjukkan harga saham yangmeningkat. Artinya value dari perusahaan menunjukkan peningkatan di matainvestor. Program privatisasi yang telah dijalankan di Indonesia menunjukkanbeberapa hasil positif dan negative. Dari segi positif terjadi beberapakemajuan dilihat dari kinerja BUMN yang telah go public dan dicerminkan dariharga saham mereka.

Privatisasi melalui penjualan saham di bursa efek Indonesiatelah meningkatkan nilai kapitalisasi pasar.Kesi WidjajantiUntuk mengukur kinerja keuangan, penelitian inimenggunakan analisis rasio keuangan berdasarkan karakteristik profitabilitas,efektifitas operasi, effektivitas, leverage dan efisiensi operasi. Hasilnyamenunjukkan bahwa kinerja keuangan meningkat setelah privatisasi. Rasioprofitabilitas operasi (ROS) mengalami kenaikan, sedangkan efisiensi operasidan penurunan rasio hutang terhadap aset. Hasil ini menyiratkan bahwa BUMN diIndonesia dapat memperbaiki kinerja keuangan melalui privatisasi denganmenunjukkan efisiensi operasi. Secara keseluruhan dari lima BUMN yang diteliti yaitu (PT.

Semen Gresik, PT Telkom, PTIndosat, PT Timah dan PT Antam) memiliki kinerja keuangan yang lebih baik pascaprivatisasi, dengan perincian sebagai berikut : profitabilitas operasi(ROS) dan efisiensi operasi naik, dan rasio utang terhadap aset menurun.Satu-satunya indikator kinerja yang meningkat secara signifikan pascaprivatisasi adalah efisiensi operasi yang dilihat pada peningkatan sales pernumber of employee secara signifikan.Walaupun privatisasi dapatmeningkatkan kinerja keuangan yang diindikasikan adanya peningkatanprofitabilitas operasi, efisiensi operasi dan turunnya leverage namunsetelah privatisasi perusahaan belum mampu meningkatkan daya saingnya yangdiindikasikan adanya penurunan efektivitas operasi (ROA dan ROE) sertaefektivitas aset dalam kontribusinya terhadap penjualan . Penurunan efektivitasaset pasca privatisasi ditunjukkan pada rasio sales per total aktiva yangmenurun secara signifikan. Sedangkan peningkatan profitabilitas perusahaansangat dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan dalam memperoleh penjualan denganbiaya serendah rendahnya atau dengan arti lain bahwa profitabilitas pascaprivatisasi meningkat, karena perusahaan mampu meningkatkan efisiensinya denganmengurangi jumlah tenaga kerja dan biaya biaya operasi lainnya.

Penurunan leveragepada perusahaan privatisasi menandai adanya peran privatisasi yang dapatmenurunkan biaya. Hasil ini memberikan signal bahwa privatisasi dapat menghasilkanpeningkatan efisiensi operasional perusahaan. Peningkatan efisensi akanmenstimulasi peningkatan daya saing , karena dapat memberikan harga lebih murahpada konsumen.

Implikasi penelitian ini adalah untuk dapat meningkatkanefisiensi yang menjadi permasalahan umum pada perusahaan BUMN, hendaknyaperusahaan meningkatkan keunggulan daya saing. Keunggulan daya saing meningkatditandai adanya pengurangan biaya operasional dan adanya pengelolaan aset yangoptimal. Keunggulan daya saing ini akan terwujud jika didukung adanya aksesfinansial yang besar untuk pengembangan usaha perusahaan yang mendorongpeningkatan volume penjualan. Hasil penelitian ini memberikan sumbanganpemikiran bagi pemerintah pada kebijakan privatisasi dalam meningkatkan kinerjakeuangan BUMN yang berbasis 2 efisiensi berdasar justifikasi”karakteristikrasio keuangan” perusahaan. Hasil penelitian ini dapat memberikan penjelasanyang lebih baik dan spesifik tentang keberhasilan privatisasi dalam memecahkanmasalah berdasar fenomena yang terkait dengan tingkat daya saing dan kinerjakeuangan perusahaan privatisasi BUMN di Indonesia.

Untuk dapat meningkatkanposisi kompetitifnya diperlukan pembenahan BUMN agar dapat memberdayakan asetperusahaan sebagai sumber keunggulanIlya AviantiPrivatisasiBUMN dapat diartikan sebagai transfer kepemilikan atau pengendalianpemerintah ke sektor swasta. Ada beberapa hal yang mendorong dilakukannyaprivatisasi, yaitu untuk memperbaiki kinerja BUMN akibat status kepemilikanBUMN dan masalah siapa yang bertanggungjawab atas kinerja BUMN tersebut,membangun mekanisme pasar dalam rangka memacu efisiensi usaha dan meningkatkanpenerimaan negara, melalui berbagai cara mengurangi subsidi kepada BUMN denganharapan dapat meningkatkan kontribusi negara atas dividen dan dalam jangkapanjang dapat meningkatkan penerimaan pajak. Tujuan privatisasi BUMNsebagaimana Undang-undang No. 19, 2003 untuk meningkatkan kinerja dan nilaitambah perusahaan, serta meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikansaham persero.

Namun demikian, dalam kenyataannya privatisasi BUMN secararata-rata belum mampu mewujudkan pengelolaan badan usaha secara efektif danefisien dan kepemilikanpublikpun masih relatif rendah. Dominasi kepemilikan pemerintah pada BUMNpersero dapat mengganggu penegakan prinsip-prinsip Good corporate governancedan dominasi kepemilik pemerintah dapat mengakibatkan pengambilan keputusanbisnis tidak profitable. Upaya yang perlu dilakukan dalam rangkamewujudkan tujuan privatisasi terkait dengan kinerja BUMN antara lain adalahmenegakan prinsip-prinsip tata kelola perusahaan yang baik, dan memberdayakanperan komite audit dan komisaris independen.Ristafany Pahlevi 2017Tidak terdapat perbedaankinerja keuangan pada perusahaan BUMN sebelum dan sesudah privatisasi.

Artinya,privatisasi belum dapat mengangkat laba dari modal maupun asset yang dimilikinya.4              Kesimpulanbandara Inggris yang diprivatisasi meningkatkankeuntungan mereka selama periode 1986 sampai 2005 (Birdsall;2003). privatisasimeningkatkan kinerja perusahaan yang didivestasi (D’Souza;2005). Banyak studi empiris baru-baru ini (dirangkum dalam Djankovdan Murrell (2002) dan Megginson dan Netter (2001)) mendokumentasikan perbaikankinerja keuangan dan operasi perusahaan yang baru diprivatisasi. Tran (2015) menemukan bahwa pergeseran dari kepemilikan negaraatau kolektif ke kepemilikan pribadi dapat secara konsisten meningkatkankinerja pengalih dalam hal keuntungan.Aprilina (2017) Hasiluji beda mean menunjukkan tidak terdapat perbedaan kinerja keuangan padaperusahaan BUMN tiga tahun sebelum dan tiga tahun sesudah privatisasi. Jadidengan diterapkannya privatisasi maka tidak mampu meningkatkan keuntunganperusahaan dari modal yang dimiliki dan tidak mampu meningkatkan keuntungandari aset yang dimilikinya. Kurniawati(2008) Kajian post-privatisasi baik kinerja keuangandan pasar BUMN menunjukkan bahwa tidak ada peningkatan kinerja keuangan yangsignifikan setelah privatisasi.

R Pahlevi(2017) Tidak terdapat perbedaankinerja keuangan pada perusahaan BUMN sebelum dan sesudah privatisasi. Artinya,privatisasi belum dapat mengangkat laba dari modal maupun asset yang dimilikinyaBerlawanan dengan Pranoto (2000)bahwa BUMN di Indonesia yang sudah diprivatisasi danlisted di pasar modal menunjukkan harga saham yang meningkat. Kesi Widjajanti, BUMNyang diteliti yaitu (PT. Semen Gresik, PT Telkom, PT Indosat, PT Timah dan PTAntam) memiliki kinerja keuangan yang lebih baik pasca privatisasi.DaftarReferensiAprilina, V. (2017).

Dampak Privatisasi padaKinerja Keuangan Badan Usaha Milik Negara (Bumn) di Indonesia. JRAK:Jurnal Riset Akuntansi & Komputerisasi Akuntansi, 4(01).Avianti, I.

(2017). Privatisasi BUMN dan Penegakan GoodCorporate Governance dan Kinerja BUMN. KINERJA, 10(1),57-65Birdsall,N., & Nellis, J. (2003).

Winners and Losers: Assessing the distributionalimpact of privatization. World development, 31(10),1617-1633.Birdsall,N., & Nellis, J.

(2005). Privatization reality check: distributionaleffects in developing countries. Reality Check: The DistributionalImpact of Privatization in Developing Countries. Washington: Center for GlobalDevelopment, 1-30.Boubakri,N., Cosset, J. C.

, & Guedhami, O. (2004). The performance of newlyprivatized firms: Evidence from Asia. Pacific-Basin Finance Journal,january, 65-90.D’Souza, J., Megginson, W.

, & Nash, R.(2005). Effect of institutional and firm-specific characteristics onpost-privatization performance: Evidence from developed countries.

 Journalof Corporate Finance, 11(5), 747-766.Pranoto, T. (2010).

Privatisasi, GCG, dan KinerjaBUMN. Lembaga Management FE UI.Srimulyo, K. (2001). Menakar Peran BUMN di EraOtonomi. Surabaya: Masyarakat, Kebudayaan dan Politik, 14(4).Tran, N. M.

,Nonneman, W., & Jorissen, A. (2015). Privatization of Vietnamese firms andits effects on firm performance. Asian economic and financial review, 5(2),202.Vuylsteke,C., Nankani, H., Candoy-Sekse, R.

, & Palmer, A. R. (1988). Techniquesof Privatization of State-owned Enterprises: Methods and implementation (Vol.

88). World Bank Publications.Widjajanti, K. (2005). Perubahan KinerjaKeuangan Privatisasi BUMN (Doctoral dissertation, Tesis, MPKPUniversitas Semarang).Kurniawati, S.

L., & Lestari, W. (2008).Studi Atas Kinerja BUMN Setelah Privatisasi. Jurnal Keuangan danPerbankan, 12(2), 263-272.

 

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Dora!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out