Site Loader
Rock Street, San Francisco

2.1     Anatomi dan Fisiologi Bola Mata

2.1.1 Anatomi Bola Mata

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

          Bola mata beserta otot penggerak bola mata
yang terdiri dari musculus rectus superior, musculus rectus lateralis, musculur
rectus medialis, musculus obliqus superior, musculus obliqus inferior, kelenjar
air mata dan saraf mata terletak di dalam cavum orbita (Octavia, 2016).  

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.1 Otot Penggerak Bola
Mata (Octavia, 2016)

 

          Cavum orbita secara skematis
digambarkan sebagai piramida dengan empat dinding yang mengerucut ke posterior.
Atap cavum orbita dibentuk oleh pars orbitalis ossis frontalis, dinding lateral
dipisahkan dari bagian atap oleh fissura orbitalis superior yang memisahkan ala
minor dari ala mayor ossis sphenoidalis. Bagian anterior dinding lateral
dibentul oleh ossis zygomayticus. Dasar orbita dipisahkan dari dinding lateral
oleh fisura orbitalis inferior. Pars orbitalis maxillae membentuk daerah
sentral. Processus frontalis maxillae di medial dan os. Zygomaticum di lateral
membentuk tepi inferior orbita. Dinding medial cavum orbita terdiri dari os ethmoidalis,
os lacrimalis, corpus ossis sphenoidalis dan processus angularis ossis
frontalis (Riordan-Eva dan
Whitcher, 2010).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.2 Tulang-Tulang Orbita Kanan
Tampak Anterior (Riordan-Eva dan Whitcher, 2010).

 

          Pembuluh darah mata merupakan cabang
dari arteri ophtalmica, yaitu cabang besar pertama arteri carotis interna
bagian intrakranial. Cabang ini berjalan dibawah nervus opticus dan melewati
kanalis optikus menuju ke orbita. menembus aklera bersama nervus opticus.
Cabang lain dari arteri ophthalmica adalah arteri lacrimalis, arteri ciliaris
posterior longus dan brevis, atreri palpebrales medialis, arteri
supraorbitalis, dan arteri supratrochlearis (Riordan-Eva dan Whitcher, 2010). Pembuluh darah di lapisan sebelah dalam bernama koroid.
Pada lapisan koroid terdapat arteri centralis retinae dan cabang dari pembuluh
darah lainnya. Darah vena keluar dari tempat yang sama dan bermuara pada sinus
cavernosus. Pembuluh darah dan saraf dapat ditemukan dibagian dalam bola mata
yang dinamakan discus nervi optic
(Wibowo, 2009).

          Bola mata berbentuk hampir bulat
dengan diameter anteroposterior sekitar 24,2 mm. Menurut
Ilyas dan Yulianti (2015), Bola mata dibungkus oleh 3 lapis jaringan, yaitu:

a.        
Sklera

Sebagian besar bola mata ditutupi oleh suatu lapisan kuat
yang disebut sklera, yang membentuk bagian putih mata (Sherwood, 2011). Sklera
merupakan jaringan ikat yang kenyal dan merupakan bagian terluar yang
melindungi bola mata.  Bagian terdepan
sklera adalah kornea yang bersifat transparan sehingga memudahkan sinar masuk
ke dalam bola mata.  Kornea orang dewasa
mempunyai tebal rata-rata 550 µm di pusatnya, diameter horizontal 11,75 mm dan
vertikal 10,6 mm. Dari anterior ke posterior, kornea memiliki lima lapisan yang
berbeda beda yaitu, lapisan epitel, lapisan Bowman, stroma, membran Descement,
dan lapisan endotel. Sumber nutrisi untuk kornea adalah pembuluh-pembuluh darah
limbus, humor aqueous, dan air mata. Saraf sensorik kornea berasal dari cabang
pertama nervus kranialis (Riordan-Eva
dan Whitcher, 2010).

b.       
Uvea

Jaringan uvea merupakan jaringan
vaskular tengah mata dan dilindungi oleh kornea dan sklera (Riordan-Eva dan Whitcher, 2010).
Jaringan sklera dan uvea dibatasi oleh ruang yang potensial mudah dimasuki
darah bila terjadi perdarahan pada ruda paksa yang disebut perdarahan
suparaknoid. Jaringan uvea ini terdiri atas koroid, iris, dan badan siliar.

Koroid merupakan segmen posterior dari
uvea, terletak diantara retina dan sklera, pada lapisan tengah di bawah sklera.
Koroid merupakan bagian yang berpigmen banyak dan mengandung banyak pembuluh
darah yang memberi nutrisi bagi retina. Lapisan anterior dari koroid mengalami
spesialisasi membentuk badan siliar dan iris (Sherwood, 2011). Terdapat ruang
suprakoroid yang terletak di antara koroid dan sklera. Kumpulan pembuluh darah
koroid mendarahi bagian luar retina yang menyokongnya (Riordan-Eva dan Whitcher, 2010).

Iris memiliki permukaan pipih dengan
apertura bukat yang terletak di tengah yang disebut pupil. Iris terletak
bersambungan dengan permukaan anterior dari lensa yang memisahkan bilik mata
depan dari bilik mata belakang, yang masing-masing berisi aqueous humor (Riordan-Eva dan Whitcher, 2010).

Pada iris terdapat pupil yang memiliki 3
susunan otot sehingga dapat mengatur jumlah sinar masuk ke dalam bola mata. Otot
dilatator terdiri atas jaringan ikat yang dapat berkontraksi disebut sel
mioepitel. Sel ini dirangsang oleh sistem saraf simpatetik sehingga mengakibatkan
sel berkontraksi dan melebarkan pupil sehingga lebih banyak cahaya yang masuk.
Otot dilator pupil yang dipersarafi oleh aktivitas simpatis bekerja berlawanan
dengan otot konstriktor yang berfungsi mengecilkan pupil. Sedangkan sfingter
iris dan otot silliar di persarafi oleh parasimpatis melalui nervus kranialis
III.  Otot siliar yang terletak di badan
siliar mengatur bentuk lensa untuk kebutuhan akomodasi (Riordan-Eva dan Whitcher, 2010).

Badan siliar yang terletak di belakang
iris menghasilkan cairan bilik mata (akuos
humor), yang dikeluarkan melalui trabekulum yang terletak pada pangkal iris
di batas kornea dan sklera. (Ilyas dan Yulianti,
2015).

c.         
Retina

Retina merupakan lembaran jaringan saraf
berlapis yang tipis dan semi transparan yang melapisi bagian dalam dua pertiga
posterior dinding bola mata (Riordan-Eva
dan Whitcher, 2010). Retina merupakan bagian yang terletak paling dalam dan mempunyai 10 lapis
membran neurosensoris yang akan merubah sinar menjadi rangsangan pada saraf
optik dan diteruskan ke otak. Lapisan-lapisan retina mulai dari sisi dalam
yaitu membraan limitans interna, lapisan serat saraf, lapisan sel ganglion,
lapisan pleksiform dalam, lapisan inti dalam, lapisan fleksiform luar, lapisan
inti luar, membran limitans eksterna, lapisan fotoreseptor, dan epitel pigmen
retina (Riordan-Eva dan Whitcher, 2010). Retina mengandung sel batang dan sel kerucut,
fotoreseptor yang mengubah energi cahaya menjadi impuls saraf. Seperti dinding
hitam sebuah studio foto, pigmen koroid dan retina dapat menyerap sinar setelah
mengenai retina untuk mencegah pantulan atau pembuyaran sinar di dalam mata
(Sherwood, 2011).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 2.3 Anatomi Bola Mata

 

          Bagian inferior dari mata terdiri dari 2 rongga berisi
cairan yang dipisahkan oleh lensa transparan berbentuk elips yang tembus cahaya
dari kornea hingga ke retina. Lensa dibungkus oleh kapsula lentis. Rongga
belakang diantara lensa dan retina mengandung bahan setengah cair mirip gel
yang disebut humor vitreus. Cairan ini penting untuk mempertahankan bentuk bola
mata agar tetap bulat. Sementara rongga anterior antara kornea dan lensa
mengandung cairan jernih yang disebut humor aquosus. Cairan ini membawa nutrien
untuk kornea dan lensa, yaitu dua struktur yang tidak memiliki aliran darah.
Humor aquosus dihasilkan dengan kecepatan sekitar 5 ml/hari oleh suatu jaringan
kapiler yang disebut badan siliar (Sherwood, 2011).

 

2.1.2  Fisiologi Aqueous Humour

          Aqueous humour diproduksi oleh suatu jaringen kapiler pada mata
yang terletak di badan siliaris, suatu turunan anterior khusus lapisan koroid.
Cairan ini diproduksi dengan kecepatan sekitar 5 mL/hari dan mempunyai fungsi
untuk membawa nutrisi bagi kornea dan lensa mata, karena adanya pembuluh darah
pada struktur ini akan menyebabkan terganggunya cahaya yang akan masuk ke dalam
retina.

          Aqueous humour akan didrainase melewati bilik mata belakang menuju
ke sudut antara iris bagian posterior dan lensa bagian anterior. Setelah
melalui sudut iris dan lensa, aqueous
humour berada di bilik mata depan dan
akan disalurkan keluar mata melalui trabecular
meshwork yang nantinya akan disalurkan menuju kanal Schlemm’s dan mengalir
menuju kanal kolektor di episcleral vena. Jika ada gangguan pengeluaran, maka
TIO mata akan meningkat.

          Aqueous humour normal terdiri dari 99,9% air,
sisanya adalah zat organik dan inorganik seperti protein, glukosa, elektrolit
(Na+, Cl-, HCO3-), asam askorbat,
dan H2O2 dan memiliki pH sekitar 7,2.

2.2      Hipertensi Okuli Terinduksi Steroid

         Hipertensi okuli adalah kondisi
dimana Tekanan Intra Okuli (TIO) pada bola mata lebih besar daripada 21 mmHg
tanpa dijumpai adanya kelainan pada lapang pandang dan Diskus Optikus
(Babizhayev, 2011). Ada 2 mekanisme dalam terjadinya kenaikan TIO, yaitu sudut
terbuka dan sudut tertutup. Sudut tertutup adalah gangguan pada drainase aqueous humour dikarenakan tertutupnya
sudut antara iris dan lensa menyebabkan aqueous
humour tidak dapat didrainase keluar dari bilik mata depan. Penggunaan
steroid jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya kenaikan TIO melalui
mekanisme sudut terbuka. Mekanisme sudut terbuka adalah kenaikan TIO pada
keadaan sudut iris dan lensa yang terbuka dan dikarenakan adanya gangguan pada
aliran keluar di kanal Schlemm maupun di trabecular
meshwork. Karena degenerasi bagian tersebut atau adanya sumbatan pada
bagian tersebut.

 

Gambar 2.4
Glaukoma sudut tertutup

Gambar 2.5
Galukoma Sudut Terbuka

 

2.2.1  Faktor
Resiko

         Pada penderita yang mendapat terapi steroid secara topikal
pada mata, sebanyak 5% menunjukkan kenaikan TIO >15 mmHg, sebanyak 30%
menunjukkan kenaikan antara 6-15 mmHg  (Jones dan Rhee, 2006). Beberapa faktor resiko telah
diidentifikasi terkait kenaikan tekanan intra okuli, antara lain:

a.  Penderita Glaukoma Sudut Terbuka dan Suspek
Glaukoma

b.
Usia pasien yang tua

c.  Mempunyai kerabat dekat yang menderita
Glaukoma Sudut Terbuka

d.
Pasien dengan kelainan jaringan penghubung pada mata

e.  Pasien myopia (Jones dan Rhee, 2006)

f.  Pasien anak – anak dibawah usia 6 tahun (Lam et al., 2005)

 

2.2.2  Patofisiologi

         Kortikosteroid menyebabkan hipertensi okuli dengan cara
menaikkan resistensi aliran keluar aqueous
humour dari bilik mata depan. Ada tiga kategori yang dapat digunakan untuk
menjelaskan fenomena tersebut, yaitu: Kortikosteroid dapat mengubah
mikrostruktur dari trabecular meshwork;
menyebabkan meningkatnya deposisi substansi di trabecular meshwork, yang menyebabkan pengurangan aliran keluar aqueous humour; dan menghambat enzim
protease dan fagositosis sel endotel trabecular
meshwork, yang menyebabkan pengurangan dalam penghancuran substansi di trabecular meshwork (Jones dan Rhee,
2006).

         Perubahan pada struktur mikro dari trabecular meshwork mungkin dapat menyebabkan pengurangan dari
pengeluaran dan peningkatan dari TIO. Kersey dan Broadway (2006) menjelaskan
bahwa actin stress fibers diorganisir
kembali menjadi jaringan actin yang menyerupai kubah geodesi polygonal lattice dalam sel trabecular meshwork manusia yang
dikultur dengan paparan dexamethasone. Penghentian pemberian dexamethasone
menyebabkan efek yang terjadi menjadi norml seperti semula. Efek ini
diperkirakan dimediasi oleh glucocorticoid reseptor yang ada di trabecular meshwork. Perubahan pada
mikrostruktur ini menyebabkan kenaikan pada resistensi pengeluaran aqueous humour sehingga terjadi kenaikan
TIO.

         Yang terakhir, pengurangan aliran pengeluaran aqueous humour dapat disebabkan oleh
berkurangnya degradasi substansi di dalam trabecular
meshwork. Kandungan tissue
plasminogen activator, stromelysin, dan metalloprotease ditemukan berkurang
pada kultur jaringan trabecular meshwork yang
diberi dexamethasone. Selain itu
dexamethasone juga menghambat metabolisme dari asam arakhidonat yang akhirnya
menghambat sifat fogositosis dari sel. Karena fungsi sel di trabecular meshwork untuk menghilangkan
deposit debris terganggu, pada akhirnya menyebabkan pengurangan aliran keluar aqueous humour pada bilik mata depan
yang akhirnya menaikkan TIO.

 

2.2.3  Tata
Laksana

            Saat ini tata laksana utama dalam
mengobati kondisi hipertensi okuli adalah dengan cara mengurangi tekanan intra
okuli sampai dibawah 21 mmHg. Penatalaksanaan pada pasien dengan glaukoma berujuan
untuk mempertahankan fungsi visual dengan mengendalikan tekanan intraokuler dan
dengan begitu akan mencegah atau menunda kerusakan saraf optik yang lebih
lanjut. Pemberian penatalaksanaan secara dini dapat meminimalisasi terjadinya
gangguan penglihatan. Penurunan tekanan intraokular dapat mencegah terjadinya
kerusakan pada nervus optikus.

Penatalaksanaan
medikamentosa dapat dibagi berdasarkan cara kerjanya  dalam menghambat produksi aqueus humor, fasilitasi aliran keluar aqueus humor, reduksi volume vitreus
serta miotik, midriatik dan siklopegik. Obat-obatan yang digunakan
antara lain:

a.     Beta-blockers: Bekerja dengan menurunkan
produksi aqueous humour dengan cara
memblok reseptor beta. Contohnya Timolol, Betaxolol, dan Carteolol.

b.     Agonis alpha: Bekerja dengan menurunkan
produksi cairan sekaligus meningkatkan aliran keluar aqueous humour. Contohnya Brimonidine dan Apraclonidine.

c.     Analog prostaglandin/prostamide: Contohnya Latanaprost 0,005% bekerja dengan
meningkatkan aliran keluar aqueous humour
melalui non-conventional (uveo-scleral)
outflow pathway.

d.     Inhibitor karbonil
anhidrase: Contohnya
Acetazolamide, Dorzolamide dan Brinzolamide. Bekerja dengan menurunkan produksi
aqueous humour.

e.    
Agonis
kolinergik: contohnya Pilokarpin. Bekerja dengan meningkatkan aliran keluar
aqueous humor melalui conventional
outflow pathway.

f.      Obat-obatan lain seperti Epinefrin
(meningkatkan outflow dan menurunkan
produksi aqueus humor).

g.     Agen Hiperosmotik untuk menurunkan volume
badan vitreus seperti gliserol, isosorbid, urea, dan manitol.

Pada umumnya operasi ditangguhkan selama
mungkin dan baru dilakukan bila terjadi beberapa keadaan antara lain seperti TIO
tak dapat dipertahankan di bawah 22 mmHg, lapang pandangan yang terus mengecil,
pPada pasien yang tidak dapat dipercaya pengobatannya, tidak mampu membeli obat
untuk seumur hidup, tak tersedia obat-obatan yang diperlukan. Teknik bedah yang
dilakukan adalah dengan iridotomi perifer, trabekuloplasti serta bedah untuk
drainase (prosedur trabekulektomi). Jika semua usaha bedah tersebut gagal
dilakukan prosedur siklodestruktif untuk menghancurkan badan silier. Prosedur
siklodestruktif antara lain dengan krioterapi, diatermi, ultrasonik frekuensi
tinggi dan dengan termal neodynium.

2.3      Stres Oksidatif

2.3.1 Definisi

   Stres
oksidatif merupakan suatu kondisi ketidakseimbangan antara produksi radikal
bebas atau reactive oxygen species (ROS) dengan antioksidan, dimana kadar
radikal bebas lebih tinggi dibandingkan antioksidan (Kurkcu, 2010) Tanpa
disadari didalam tubuh kita terbentuk radikal bebas terus menerus baik melalui
proses metabolisme sel normal, respon terhadap pengaruh dari luar tubuh maupun
penambahan usia. Pada kondisi fisiologis, antioksidan sebagai sistem pertahanan
dalam tubuh dapat membantu sel dan jaringan melawan radikal bebas yang
terbentuk (Winarsi, 2007).

 

2.3.2 Radikal Bebas

Radikal bebas merupakan senyawa atau molekul yang
memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbit luarnya,
sehingga sangat reaktif dalam mencari pasangan. Radikal bebas dapat berasal
dari dalam tubuh sendiri sebagai bagian dari proses metabolisme normal atau
karena proses patologis seperti inflamasi, atau dapat berasal dari sumber luar
seperti karena polusi udara, asap rokok, zat kimia industri, dan paparan ozon
(Lobo et al., 2010). Dalam mencari pasangannya,
senyawa atau molekul ini menyerang dan mengikat elektron molekul lain yanng
berada disekitarnya. Bila elektron yang terikat oleh senyawa radikal bebas yang
bersifat ionik maka tidak berbahaya, namun bila terikat pada senyawa yang
berikatan kovalen maka akan sangat berbahaya karena digunakan bersama-sama pada
orbit luarnya. Senyawa yang memiliki ikatan kovalen ada molekul besar seperti
lipid, protein, dan DNA. Dari ketiga molekul tersebut, yang paling rentan
terhadap serangan radikal bebas adalah asam lemak tak jenuh (Winarsi, 2007).

Radikal bebas dapat
merusak jaringan normal terutama apabila jumlahnya terlalu banyak. Akibat dari
radikal bebas dalam jumlah besar adalah gangguan produksi DNA, lapisan lipid
pada membran sel, pembuluh darah, produksi prostaglandin, kerusakan sel dan
mengurangi kemampuan sel untuk beradaptasi terhadap lingkungannya (Pratiwi,
2010).

     Perusakan
sel oleh radikal bebas reaktif didahului oleh kerusakan membran sel, dengan
rangkaian proses sebagai berikut:

a.         
Terjadi
ikatan kovalen antara radikal bebas dengan komponen membran, sehingga terjadi
perubahan struktur dan fungsi reseptor.

b.         
Oksidasi
gugus tiol pada komponen membran oleh radikal bebas menyebabkan proses transport lintas
membran terganggu.

c.         
Reaksi
peroksidasi lipid dan kolesterol membran yang mengandung asam lemak tak jenuh
majemuk (PUFA) menghasilkan kerusakan membran sel, antara lain dengan mengubah
fluiditas, cross linking, struktur
dan fungsi membran serta menyebabkan kematian sel (Yudaristy dan Wahyuni, 2012).

 

2.4          
Malondialdehyde
(MDA)

MDA merupakan produk
peroksidasi lipid yang berupa aldehid reaktif dan merupakan salah satu dari
banyak spesies elektrofil reaktif yang menyebabkan stress toksik pada sel. MDA
dapat bereaksi dengan deoksiguanosin dan deoksiadenosin pada DNA dan membentuk
substansi yang bersifat mutagenik (Janero, 2001). Peredaran MDA merupakan salah satu biomarker
stress oksidatif yang umum dan banyak digunakan. MDA memiliki dua bentuk, yaitu
bebas atau terikat secara kovalen dengan protein, asam nukleat, lipoprotein dan
asam amino tertentu (Tsikas et al.,
2015).

 

 

Gambar 2.6 Ikatan Kimia
Malondialdehid

 

         MDA dibentuk dari lipid yang mengalami reaksi lipid
peroksidasi, dimana oksidan seperti spesies radikal bebas atau non radikal
spesies mengambil electron dari lipid yang mengandung ikatan kovalen
karbon-karbon, terutama polyunsaturated
fatty acid (PUFAs) yang melibatkan perpindahan hydrogen dari karbon dan
penambahan oksigen menghasilkan lipid
peroxyl radicals dan hydroperoxides sebagai
produk utama dan MDA sebagai salah satu produk sekunder yang paling mutagenik (Ayala et al, 2014).

         Pada hipertensi okuli kadar MDA dapat ditemukan meningkat
pada trabecular meshwork (Babizhayev,
2011), lensa mata (Babizhayev & Bunin, 1989), dan juga pada
retina (Moreno et al,
2004).
MDA merupakan marker yang paling banyak diteliti dan dianggap sebagai marker
lipid peroksidasi in vivo yang baik, baik pada manusia maupun pada binatang.
Alasan lain MDA sangat cocok sebagai biomarker untuk stres oksidatif karena
pembentukan MDA sesuai dengan stres oksidatif, kadanya dapat diukur secara
akurat dengan berbagai metode, bersifat stabil, dan terdapat dalam jumlah yang
dapat dideteksi pada semua jaringan tubuh dan cairan biologis (Surya, 2013).
Salah satu cara untuk mengukur kadar MDA adalah melalui metode Thiobarbiturat Acid Reactive Substances
(TBARS) dimana asam Thiobarbiturat akan bereaksi dengan MDA dan menghasilkan produk
yang fluorescent yang nantinya akan
diukur melalui metode spektofotometri atau fluorometri (Tsikas et al., 2015).

 

2.5     
Murbei

2.5.1  Definisi

         Murbei (Morus alba L.),
termasuk dalam famili moraceae merupakan tumbuhan yang berasal dari cina dan
tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m dari permukaan laut, dan
memerlukan cukup sinar matahari. Tumbuhan ini telah banyak dibudidayakan dan
menyukai daerah – daerah yang cukup basah seperti lereng gunung, tetapi pada
tanah yang berdrainase baik (Dalimartha, 2002). Pohon murbei dapat tumbuh hingga 9 meter dengan ciri-ciri percabangan
banyak, cabang muda, berambut halus, daun tunggal, letak berselang dan
bertangkai dengan panjang 1-4 cm. Bentuk daun murbei bulat seperti telur, ujung
runcing, pangkal tumpul tepi bergerigi, pertulangan menyirip, agak menonjol,
permukaan daun kasar serta berwarna hijau. . Dalam satu pohon terdapat
bunga jantan, bunga betina dan bunga sempurna yang terpisah, selain itu tanaman
murbei dapat berbunga sepanjang tahun. Buah murbei memiliki kandungan air yang cukup banyak, berwarna hijau setelah masak menjadi hitam, buah
kecil dan saling berlekatan dan bijinya kecil berukuran 1-1,2 mm.

 

2.5.2  Taksonomi

Kingdom               :
Plantae

Divisi                    :
Spermatophyte

Subdivisi               :
Angiospermae

Kelas                     :
Dicotyledoneae

Ordo                      :
Urticalis

Famili                    :
Moraceae

Genus                    :
Morus

Spesies                  : Morus alba

2.5.3  Kandungan
Fitokimia dan Manfaat Daun Murbei

Beberapa bahan kimia yang terkandung pada daun murbei
diantaranya yaitu Ecdysterone, B-Sitosterone, Eugenol, Linalool, Trigonellin, Zinc, Vitamin
B dan C, Asam klorogenik, Asam fumarat, Asam folat (Nur’aini, 2014).

Skrining fitokimia ekstrak etanol daun murbei menunjukkan
daun murbei mengandung alkaloid, flavonoid, polifenol, dan terpenoid. Sedangkan
pada buah murbei mengandung alkaloid, flavonoid, fenolik, dan steroid. Hasil
uji kandungan total fenol pada daun dan buah murbei menunjukkan ekstrak etanol
daun dan buah murbei berturut-turut mengandung fenol sebesar 8,601 % dan
8,047%. Hasil uji kandungan flavonoid menunjukkan daun dan buah murbei
berturut-turut mengandung flavonoid sebesar 3,363% dan 3,061%. Hasil tersebut
menunjukkan bahwa daun murbei memiliki kandungan fenol dan flavonoid yang lebih
tinggi dibandingkan buah murbei. Kadar flavonoid yang lebih tinggi pada ekstrak
etanol daun murbei menyebabkan ekstrak etanol daun murbei memiliki aktivitas
antioksidan yang lebih besar dibandingkan ekstrak etanol buah murbei (Hilwiyah,
2013). Kandungan
senyawa aktif daun murbei secara umum meliputi golongan fenolik, flavonoid
seperti rutin, kuersetin, asam galat dan asam klorogenik (Katsube et al. 2006). Kandungan flavonoid pada
ekstrak daun murbei kering diketahui sebanyak 14,8 mg/g dengan kandungan paling
banyak rutin dan kuersetin (Zhisen, 1999). Flavonoid yang paling banyak
ditemukan di daun murbei adalah quercetin 3-(6-malonylglucoside) (900 mg/100 g
daun kering), sebagai penyumbang aktivitas antioksidan terbesar di daun murbei
(Katsube et al, 2006).

Gambar 2.7
Struktur Kimia Kuersetin

 

Kuersetin
bekerja menghambat pembentukan MDA dengan cara sebagai hidrogen atom transfer (HAT) yaitu dengan mendonorkan atom hidrogen
dan single electron transfer (SET)
dengan mentransfer elektron untuk mereduksi metal ion, radikal dan carbonyls. Mekanisme transfer hidrogen
dapat mencegah tahap inisiasi peroksidasi lipid dengan bereaksi dengan lipid
radikal atau secara langsung menghambat tahap propagasi peroksidasi lipid
dengan bereaksi dengan peroxyl
radikal atau radikal akoxyl sehingga
mencegah pembentukan MDA secara berkelanjutan (Aytul, 2010).

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Dora!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out